Langsung ke konten utama

Review Artikel

PERENCANAAN TEMPAT PERHENTIAN BIS KAMPUS DALAM RANGKA MENDUKUNG PROGRAM GREEN CAMPUS UNS


[B0319039] Khoirunnisa Salsabila
Program Studi Sastra Inggris
Fakultas Ilmu Budaya

A. Latar Belakang
Konsep green saat ini memang sangat gencar untuk dilakukan terlebih dalam bidang transportasi sebagai salah satu bidang yang menyumbang emisi terbanyak. Konsep ini juga diberlakukan di lingkungan kampus seperti UNS, salah satu sarana transportasi di kampus UNS yang mendukung program green campus adalah bis kampus.
Pengoperasian bis kampus ini belum optimal dikarenakan masih adanya kendaraan pribadi (mobil dan motor) yang masih berada di dalam lingkungan kampus. Rencana larangan menggunakan kendaraan pribadi nantinya akan mendorong civitas akademika menggunakan bis kampus sehingga prasarana bis seperti halte diperlukan agar pengoperasian bis dapat optimal, terlebih pada pemilihan lokasi halte yang baik akan menjadikan kondisi lalu lintas di dalam kampus lebih tertib dan lancar.

B. Tujuan Artikel Ilmiah
Pada dasarnya Tempat Perhentian Bis (TPB) terbagi menjadi dua yakni TPB dengan rambu dan TPB dengan bangunan.Menurut Pedoman Teknis Perekayasaaan Tempat Perhentian Kendaraan Penumpang Umum oleh Departemen Perhubungan (1996), Tempat Perhentian Kendaraan Penumpang Umum (TPKPU) terdiri dari halte dan tempat perhentian bis.Tempat Perhentian Bis (TPB) adalah tempat untuk menurunkan dan/atau menaikkan penumpang, sedangkan halte adalah tempat perhentian kendaraan penumpang umum untuk menurunkan dan/atau menaikkan penumpang yang dilengkapi dengan bangunan.
Dalam penentuan lokasi halte ini terdapat dua pandangan yang perlu dipertimbangkan.
Pertama yaitu dari operator yang menentukan lokasi halte dipengaruhi oleh biaya operasional, served traffic demand, dan fasilitas transportasi yang telah tersedia (jaringan jalan dan fasilitas transportasi lainnya).
Kedua dari pengguna bis yaitu aksesibilitas berjalan kaki, integrasi dengan moda transportasi lain, dan kualitas pelayanan menjadi penentuan penempatan lokasi halte (Xuebin, 2010).
Dengan melakukan penelitian berbasis kuesioner, peneliti berharap untuk dapat mengetahui bagaimanakah TPB yang diinginkan oleh sivitas akademika di UNS, sehingga dapat menjadi acuan dalam pembangunan TPB di wilayah UNS.


C. Pembahasan
Peneliti melakukan desain kuesioner bertujuan untuk merencanakan jumlah responden, mendistribusikannya, dan membuat kuesioner sebaik mungkin. Survei pendahuluan dilakukan kepada 30 responden. Pengujian validitas dan reliabilitas dilakukan pada kuesioner survei pendahuluan bertujuan untuk mengetahui variabel valid atau
tidak dan kuesioner reliabel atau tidak. Setelah survei pendahuluan diketahui valid dan reliabel maka peneliti melaksanakan survei utama dengan jumlah responden 348 orang yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan karyawan. Skor tiap variabel pada survei utama dijumlahkan, maka variabel dengan nilai tertinggi menjadi acuan pertama dalam pertimbangan perencanaan lokasi tempat perhentian bis kampus, dan diikuti oleh variabel yang memiliki nilai terbanyak selanjutnya.
 
Hasil kuesioner menunjukkan bahwa para responden sangat menginginkan tersedianya TPB yang nyaman dan teduh disebabkan karena memang para penumpang ingin nyaman dan aman dari cuaca baik sinar matahari maupun hujan saat menunggu kedatangan bis, terlebih pada saat posisi berdiri membuat para penumpang enggan
menunggu lama.
TPB dapat ditempatkan di area yang memang teduh dengan adanya pohon atau bangunan lain di area tersebut atau TPB ditempatkan di area yang kurang teduh dengan memfasilitasi halte sehingga penumpang terlindungi dari sinar matahari dengan adanya bangunan halte tersebut. Namun, fasilitas halte tidak hanya memberikan rasa aman saja, tetapi juga harus nyaman.Dalam hal ini halte harus mencukupi potensi pengguna yang ada sehingga sebisa mungkin halte tidak overload.
Mayoritas area kampus UNS sendiri sudah terlindungi dengan adanya pohon-pohon di tepi jalannya. Area lainnya yang tidak terdapat pohon hanya di daerah dekat gerbang utara yakni dari Masjid Nurul Huda sampai Gedung Pasca Sarjana, daerah FE, FH, dan FMIPA sehingga lokasi TPB pada sepanjang area tersebut harus dilengkapi dengan bangunan (halte)
 

TPB tidak boleh ditempatkan di jalan yang memiliki persen gradien yang tinggi dan di tikungan. Kelandaian jalan yang terlalu tinggi akan memengaruhi ketinggian antara trotoar dengan bis, jika ketinggiannya terlampau jauh akan menyulitkan penumpang untuk naik-turun bis. Jalan dengan persen gradien yang tinggi juga dapat memberi efek yang tidak baik pada mesin bis itu sendiri, terlebih jika bis harus berhenti lalu berjalan di tanjakan yang
curam secara rutin maka akan berdampak buruk pada umur mesin, lalu akan berdampak pula pada biaya operasional kendaraan.

Penempatan TPB di tikungan juga akan memengaruhi jarak pandang pengguna jalan
lainnya sehingga sangat membahayakan lalu lintas di sekitar daerah tersebut.
 

D. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa idealnya, TPB dibangun di tempat yang nyaman dan teduh untuk memberikan rasa aman dan tentram, dan tidak pula di jalanan yang menanjak untuk menghindari bahaya lalu lintas daerah.

Komentar